PABEAN MYTH : SEMAR - THE UNTOLD STORY

    

  Kalau berbicara soal mitos di kampung halaman, bukan hal yang baru jika ada sesuatu yang bahkan tidak bisa di pikir secara logika. Ada cerita cerita yang kadang memang tidak bisa di nalar namun, buktinya terpampang dengan nyata. 

    Nama saya Indra Mukti Wijaya Kusuma mahasiswa semester 5 Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, saya berasal dari salah satu desa tua yang berada di Kabupaten Sidoarjo. Memiliki kisah sejarah yang cukup panjang Desa Pabean juga banyak memiliki kisah kisah yang tidak bisa di pikir secara logika.

    Background keluarga saya berasal dari keluarga seniman jawa yaitu Keluarga Dalang. Kakek saya adalah generasi Ke-7 keluarganya yang berprofesi sebagai dalang secara turun temurun. Dimana kata orang orang terdahulu generasi ke-7 adalah generasi terakhir seseorang berprofesi menjadi dalang. Terbukti setalah kakek saya tidak ada satupun dari saudara Ayah saya yang melanjutkan menjadi dalang. Entah memang dikarenakan perkembangan teknologi atau hal hal yang lain.

    Ada satu cerita menarik dari keluarga saya di kampung halaman saya yaitu Kisah seorang semar. Semar adalah salah satu karakter wayang kulit di Kisah Wayang Kulit Jawa Timur. Dengan ciri khas nya yang kemana mana selalu membawa lonceng penanda kedatangannya. Semar memiliki "geng" yang bernama Punokawan, berisi 4 Karakter perwayangan. Di keluarga kami, punokawan termasuk yang sangat disakralkan. Dikarenakan ada banyak sekali kisah dibaliknya yang sangat menarik.

    Ada suatu cerita yang menarik tentang kisah seorang Semar. Normalnya, Semar dijadikan satu dengan wayang kulit lainnya di dalam kotak wayang. Namun pada saat tengah malam, Ayah saya mendengar bunyi lonceng yang berjalan dan diyakini bahwa sumber bunyinya adalah Lonceng yang dibawa oleh semar kemana mana. Dan benar saja saat pagi hari, semar yang awalnya sudah di taruh di dalam kotak wayang tiba tiba sudah keluar dari kotaknya dan berada di meja ruang tamu yang jaraknya juga sangat jauh. Setelah mengetahui hal tersebut ayah saya mengembalikan semar di kotak wayngnya bersama wayang wayang lain. Namun, keesokan harinya kejadian itu terulang lagi hingga akhirnya Setelah kejadian itu terjadi berulang ulang kali, keluarga kami memutuskan untuk menaruh semar dalam pigora. Yang berarti berbeda dari wayang wayang yang lainnya.

    Suatu kejadian yang tidak bisa di nalar oleh pikiran manusia dimana benda mati tidak mungkin bisa berjalan sendiri. Namun, benar adanya disertai dengan bukti bukti yang ada. Saya menulis artikel ini karena menurut saya, ini adalah salah satu kisah yang jarang sekali disorot, tentang sakralnya dunia perwayangan namun menarik untuk dibahas.

Sedikit Shortvideo karya saya tentang gamabaran sedikit tantang mitos desa pabean yaitu Semar, kisah yang jarang disorot.














Comments

Popular posts from this blog

PKKMB Fakultas DAY 2 (Rangkuman Materi)

Tugas My Portofolio Day 2